Sumbawa Barat — Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) membenarkan adanya serangan hama tungro yang melanda ratusan hektare lahan pertanian milik petani. Saat ini, pemerintah daerah tengah melakukan langkah penanganan sekaligus membantu petani melalui proses klaim asuransi.
Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian KSB, Syamsul Rizal, mengungkapkan bahwa berdasarkan data terbaru, luas lahan yang terdeteksi terserang hama tungro telah mencapai lebih dari 100 hektare.
“Data kami per hari ini benar lebih dari 100 hektare lahan terdampak tungro,” ujarnya. Jum’at (27/03/2026).
Ia menjelaskan, sebagai langkah penanganan awal, petani telah diarahkan untuk melakukan eliminasi atau pemusnahan tanaman yang terinfeksi guna mencegah penyebaran virus ke lahan lainnya.
Selain itu, Dinas Pertanian KSB juga bergerak cepat dengan mengajukan klaim asuransi ke pihak Jasindo untuk membantu meringankan kerugian petani yang terdampak gagal panen.
“Saat ini hampir 90 persen petani yang terdampak sudah kita proses klaim asuransinya. Tinggal menunggu tim verifikasi turun ke lapangan,” jelas Rizal.
Tim verifikasi nantinya akan memastikan kondisi di lapangan, termasuk memastikan bahwa kerusakan tanaman padi benar disebabkan oleh serangan hama tungro. Hasil verifikasi ini menjadi dasar pencairan klaim asuransi bagi para petani.
Lebih lanjut, Rizal mengungkapkan bahwa mayoritas tanaman padi yang terserang hama tungro berasal dari varietas Inpari 32. Varietas tersebut diketahui cukup rentan terhadap serangan virus tungro yang dibawa oleh wereng hijau.
“Rata-rata yang terkena tungro itu jenis bibit Inpari 32 yang memang rentan,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi ke depan, pihaknya tidak lagi menyarankan petani untuk menggunakan varietas yang sama. Dinas Pertanian berencana menyiapkan alternatif varietas padi yang lebih tahan terhadap serangan hama, seperti Inpari 49.
“Ke depan kita akan siapkan varietas baru yang lebih kuat terhadap tungro,” tambahnya.
Rizal juga mengungkapkan bahwa sebagian besar benih padi yang terdampak merupakan bantuan dari pemerintah pusat yang disalurkan kepada petani di sejumlah wilayah.
Wilayah yang paling banyak terdampak antara lain Kecamatan Brang Rea, Brang Ene, dan Taliwang. Sementara itu, wilayah Seteluk relatif aman dari serangan tungro karena tidak menerima bantuan benih tersebut.
“Yang banyak terdampak itu di Brang Rea, Brang Ene, dan Taliwang. Sedangkan Seteluk tidak terdampak karena tidak menggunakan benih tersebut,” jelasnya.
Dinas Pertanian KSB berharap dengan langkah penanganan yang dilakukan, termasuk eliminasi tanaman dan pergantian varietas, penyebaran hama tungro dapat segera dikendalikan sehingga tidak berdampak lebih luas pada musim tanam berikutnya. (Jr).
