oleh

Rembuk Aksi Percepatan Penurunan Stunting Cegah Stunting – Menuju Generasi Emas KSB

KSBNEWS.COM — Sejumlah organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat langsung dalam Aksi Percepatan Penurunan Angka Stunting di wilayah KSB, nampak kompak dan solid dalam mencegah angka stunting adalah masalah kurang gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Tentunya, seorang anak di anggap mengalami stunting jika tinggi badan mereka lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya (berdasarkan WHO-MGRS).

Sebagai bentuk komitmen untuk mensupport aksi Percepatan Penurunan Stunting KSB, melalui pertemuan Rembuk Aksi Percepatan Penurunan Stunting “Cegah Stunting Menuju Generasi Emas KSB, Tingkat Kabupaten Sumbawa Barat” pada Selasa (30/06) pukul 09.00 WITA bertempat di Aula Hanipati Resto – Taliwang (KSB), dibuka secara resmi oleh Sekda KSB, H Abdul Aziz SH MH.

Kekompakan Tim Aksi Percepatan Penurunan Angka Stunting KSB, nampak jelas dari hadir nya tim Konvergensi mulai dari tingkat desa dan kecamatan serta OPD terkait yang terlibat langsung dalam giat tersebut.

Tak sekedar hadir, bahkan tim dari tingkat desa dan kecamatan pun turut memberikan masukan dan komitmen mensupport pencegahan Stunting.

Bahkan peran dari Pemda Sumbawa Barat lebih lagi memberikan support dimaksud dalam menetapkan anggaran yaitu membangun manusia dalam arti luas salah satu nya di bidang Kesehatan tumbuh kembang anak, diantaranya terkait juga dengan Stunting Penanganan nya konverhensif antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Terkait penanganannya lebih dominan oleh Dinas Kesehatan dan melibatkan OPD lainnya Dinas Sosial, Dinas P2KB dan lainnya, berkenaan pula dengan perilaku sejumlah masyarakat, seperti melumatkan makanan dari mulut orang dewasa/orang tua kemudian dimasukkan kedalam mulut (Makan) balita.

“Alhamdulillah, di KSB perilaku demikian sudah tidak ada termasuk memberikan pisang di usia tertentu atau belum waktunya,” kata, Sekda.

Yang perlu dilakukan saat ini lebih kepada mengubah pola perilaku dan pola asuh, dalam rangka mencegah Stunting tentu nya dengan melibatkan OPD lain, yakni mendukung program ketahanan pangan dalam bentuk meningkatkan perilaku menanam sayur dan buah di pekarangan dan pot.

Untuk mensukseskan target aksi Percepatan Penurunan Stunting, Ia berharap seluruh OPD terkait bersinergi dalam rangka berikhtiar menurunkan angka Stunting di KSB.

Sebagaimana diketahui angka 18 persen, lanjut Sekda menambahkan, lebih rendah dari NTB turun ke 15 persen (secara internal).

Selanjutnya, untuk support anggaran mulai dari OPD maupun Pemdes telah di persiapkan dalam rangka pelaksanaan fokus untuk desa desa yang di sampaikan oleh Ketua Tim Konvergensi Stunting KSB.

Sebelumnya, oleh Ketua Tim Konvergensi Stunting KSB, Drh. Hairul MM dalam pertemuan Rembuk Aksi Percepatan Penurunan Stunting “Cegah Stunting Menuju Generasi Emas KSB, Tingkat Kabupaten Sumbawa Barat” melaporkan, ada sekitar 10 (Sepuluh) desa dan 1 (Satu) Kelurahan menjadi Lokus Stunting Tahun 2021 antara lain desa Mantar, Kokarlian, Poto Tano, Tambak Sari, Tua Nanga, Labu Lalar, Batu Putih, Seloto, Mataiyang, SP2 dan Kelurahan Bugis kecamatan Taliwang.

Penyusunan rencana program yang dilaksanakan OPD dan desa, Aksi Rembuk Stunting beberapa desa yang di intervensi dalam pencegahan Stunting tahun 2020 antara lain desa Kokarlian, Senayan, Mantar, Seteluk Tengah, Kelanir, Air Suning, Rempe Loka, Sapugara Bre, Tepas Sepakat, dan beberapa desa lainnya.

Penetapan Perbup Pencegahan Stunting. “Diperlukan komitmen kita bersama untuk lebih intens dalam melakukan pencegahan,” imbuh, Drh Hairul.

Fokus Kabupaten Sumbawa Barat selain menekan dan mempertahankan angka Stunting, menurutnya Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) KSB, H Tuwuh SAP saat dikonfirmasi Wartawan, mempertahankan yang sudah baik ini sangat tidak gampang/mudah . Akan tetapi hasil evaluasi penimbangan massal angka Stunting bisa turun lagi.

“Tentunya itu menjadi sesuatu yang menggembirakan berkat kerja keras Tim Aksi Percepatan Penurunan Stunting,” ujar, H Tuwuh SAP. Tercatat untuk angka tahun 2018 wilayah KSB diketahui mengalami penurunan menjadi 18 persen secara nasional, namun secara internal (KSB,Red) angka Stunting di KSB terus mengalami penurunan hingga 15 persen, kendati angka tersebut belum di akui secara nasional.

“Tapi itu sebagai bagian dari evaluasi kita nanti pada saat di lakukan sensus berharap KSB bisa turun di angka 15 persen,” harap, H Tuwuh SAP.

Melalui Tim Aksi Percepatan Penurunan Stunting KSB yang dinilai sudah sangat kompak dan solid, sambung H Tuwuh SAP, hal itu nampak jelas pada pertemuan Selasa (30/06) karenanya, Ia sangat optimis KSB bisa menurun kan angka Stunting.

Apalagi support dan masukan dari tingkat kecamatan dan desa. Dimana upaya pencegahan oleh instansi nya dimulai dari pelayanan kesehatan secara maksimal kepada ibu hamil dan termasuk pemberian Vitamin B (Penambah Darah) untuk untuk remaja puteri .

Pada prinsipnya, kalau gizi nya terpenuhi dari awal tentu nya bisa mencegah Stunting. Oleh sebab itu Ia berharap, tim aksi Percepatan Penurunan Stunting KSB untuk sama sama mengintervensi sesuai dengan tupoksi terkait program pendukung nantinya bisa di akomodir oleh Bappeda – Litbang setempat, pungkasnya.

Support yang sama pula dilakukan oleh Dinas Sosial (Disos) KSB, dalam hal mensejahterakan kehidupan masyarakat. Seperti diketahui sesuai pedoman aksi Percepatan Penurunan Stunting nasional, dua tugas yang harus dikerjakan oleh Disos dalam konteks intervensi sensitif yang di lakukan, yakni (1) tugas melaksanakan Famili Development Sessions (FDS) untuk KPMPKH atau P2K2 (Program Peningkatan Kualitas Keluarga), (2) Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mendapat bantuan pangan non tunai.

Dari dua tugas dimaksud sejauh ini oleh KSB sudah terlaksana semua (FDS & P2K2) untuk KPM PKH dilakukan satu kali sebulan perkelompok. Artinya, setiap KPM mendapat kesempatan sekali dalam satu bulan, urai Kepala Dinas Sosial (Disos) KSB, dr H Syaifuddin MM kepada Wartawan.

Hal itu menjadi salah satu materi yang ditampilkan terkait gizi dan kesehatan, tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan, penting nya gizi untuk ibu hamil dan pentingnya PHBS.

Lebih jauh, dr H Syaifuddin MM menguraikan, dalam poin PKH disebut sebelum bantuan pangan sosial di PKH, ada penambahan indeks bantuan untuk ibu hamil dan balita besarannya sekitar Rp 2.400,000,- pertahun menjadi Rp 3.000.000,- pertahun untuk ibu hamil, sedangkan untuk balita dari Rp 2.400.009,- pertahun naik menjadi Rp 3.000.000,- pertahun.

Jadi, bansos pangan ada peningkatan sebesar Rp 40.000,- perbulan sebagai tambahan pangan pangan dalam rangka membantu gizi dari PKM. Maka tiga point’ itu menjadi bentuk realisasi dari dua tugas yang menjadi tugas intervensi sensitif Dinas Sosial (Disos) KSB, beber dr H Syaifuddin MM.

“Untuk PKH sasaran nya ada 5000 an KPM, sementara bantuan pangan non tunai sekitar Rp 10.000 yakni dua kali lipat jumlah PKH untuk BPMT ada 10.000.

“Disos KSB memberikan dukungan dalam aksi Percepatan Penurunan Angka Stunting KSB sesuai dengan tugas,” sebutnya.

Seperti BPMT sebelumnya bantuan Rp 110.000,- perbulan per KK, selanjutnya untuk mendukung aksi Percepatan Penurunan Stunting ini maka angka bantuan kembali di naikman jadi Rp 40.000,- (Jadi Rp 150.000,-) ditambah lagi dengan adanya dampak Covid-19 bantuan dimaksud kembali ditambah menjadi Rp 200.000,-

Peningkatan nilai bantuan tersebut, sebut dr H Syaifuddin MM, dalam tahun 2020 ini dalam rangka mendukung aksi Percepatan Penurunan Angka Stunting. Dalam hal ini pihaknya tetapkan melakukan evaluasi penerimaan dan pemanfaatan dari bantuan sosial yang disalurkan oleh pemerintah.

Sementara itu Sekretaris Komisi II DPRD KSB, H Riyadi SE turut serta hadir dalam agenda tersebut, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Pemda KSB melalui tim aksi Percepatan Penurunan Angka Stunting, mampu menurunkan angka Stunting di KSB.

“Dalam hal ini kami sangat merespon program terkait penurunan angka Stunting, meskipun hadirnya saya bukan dari komisi terkait namun di Komisi II DPRD Saya bersam rekan rekan DPRD bisa mensupport dalam bentuk program melalui instansi terkait misalnya melalui Dinas Ketahanan Pangan,” ungkap, H Riyadi.

Penting bagi legislatif untuk mensupport program pencegahan Stunting, KSB kedepan mencetak generasi cerdas.

“Saya kita patut bagi semua pihak untuk sama sama berkontribusi untuk mendorong target pencegahan Stunting,” tutup, H Riyadi SE.

Pertemuan Rembuk Aksi Percepatan Penurunan Stunting “Cegah Stunting Menuju Generasi Emas KSB, Tingkat Kabupaten Sumbawa Barat” tersebjt dirangkai kan dengan penandatanganan Kesepakatan Rembuk Stunting Tim Konvergensi tingkat Kecamatan dan Desa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.